Email : oposisi2015@gmail.com... Pusat : Jl. Hayam Wuruk, No 79, Kota Kediri...Sekretariat : Jl. Trunojoyo, Gg. Mayang, No 1/20, Ngawi, Jawa Timur
Home » » MENUMBUHKAN MINAT BACA MELALUI PROGRAM GPMB

MENUMBUHKAN MINAT BACA MELALUI PROGRAM GPMB

Written By BBG Publizer on Rabu, 06 Juli 2022 | 10.53

 OPINI

Oleh: Bambang Priyo Wibowo


Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia menjadi tantangan yang belum terpecahkan hingga saat ini. Berbagai survei menunjukkan bahwa minat baca di Indonesia memang masih sangat rendah. UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Hal ini berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada tahun 2019.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut, misalnya dengan membentuk GPMB.  Perpustakaan Nasional berupaya untuk mengangkat minat baca masyarakat dengan membentuk Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB). 

GPMB ini sebenarnya telah lama dibentuk yakni pada 25 Oktober 2001 di Istana Bogor. GPMB dibentuk sebagai tindak lanjut dari Pencanangan Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan pada tanggal 14 September 1995 oleh Presiden RI. Sebagai organisasi sosial yang berskala nasional, GPMB memiliki pengurus daerah baik di daerah provinsi maupun daerah kabupaten/kota. Namun demikian, belum semua provinsi dan kabupaten/kota memiliki pengurus daerah GPMB. Sekarang (2021) GPMB sudah berusia 20 tahun, tetapi ada beberapa kabupaten/kota yang  sangat lambat merespon. Misalnya kabupaten Ngawi baru membentuk GPMB sekitar bulan Oktober 2021. Kepengurusan untuk periode 2021 – 2025 sudah terbentuk tetapi baru dilantik tanggal 22 Desember 2021.

Akibatnya pengurus  belum bisa menjalankan program kerja sebagaimana mestinya. Sangat disayangkan apabila GPMB dibentuk hanya sekadar formalitas. Bila hal ini terjadi tidak akan ada manfaatnya. Upaya untuk menumbuhkan minat baca tidak akan berhasil. Sehubungan dengan hal tersebut maka sebaiknya GPMB pusat perlu melakukan pembinaan lebih intensif sampai ke tingkat kabupaten/kota supaya kegiatan lebih efektif.

Harus diakui bahwa GPMB sudah banyak melakukan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Menurut hemat saya, di antara sekian banyak kegiatan ada yang harus ditingkatkan dan mendapat perhatian lebih seirus, yaitu menumbuhkan minat membaca dalam keluarga sejak dini. 

Bila sejak dini setiap keluarga menanamkan kebiasaan membaca pada anak-anaknya maka anak-anak Indonesia akan memiliki minat baca yang tinggi. Minat baca itu membutuhkan proses yang intensif. Butuh pembiasaan di lingkungan masing-masing. Karena keluarga merupakan pusat pendidikan yang pertama dan utama bagi anak, maka keluarga memegang peranan sangat penting dalam menamankan minat membaca. Banyak hal yang bisa dilakukan dalam keluarga agar anak-anak mereka memiliki minat baca yang tinggi. Misalnya dengan membacakan buku untuk anak-anak mereka pada saat menjelang tidur dan memberikan hadiah ulang tahun berupa buku. 

Minat baca tidak dapat tumbuh secara instan, tetapi melalui proses yang panjang yang teratur dan berkesinambungan. Minat baca merupakan suatu ketertarikan untuk dapat mengartikan atau menafsirkan media kata-kata dengan tujuan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. Dengan adanya minat baca dapat mendorong seseorang untuk giat memperluas pengetahuannya. Semakin tinggi minat baca pada diri seseorang semakin tinggi pula hasil belajar yang diterimanya, sehingga diharapkan dapat mencapai tujuan belajar optimal. 

Selain keluarga, sekolah merupakan lingkungan yang sangat penting bagi tumbuh dan berkembangnya minat baca di kalangan siswa. Seandaianya di lingkungan keluarga sudah ditanamkan kebiasaan gemar membaca buku maka sekolah tinggal memberikan bimbingan yang lebih intensif. Guru sebagai figur yang diteladani oleh siswa harus bisa memberikan contoh dalam bentuk tindakan nyata supaya siswa memiliki kemampuan literasi yang lebih baik. 

Gerakan Literasi Sekolah harus dilaksanakan secara maksimal. Perubahan budaya literasi di sekolah memang menjadi salah satu output yang menjadi target Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dari implementasi Kurikulum 2013. Contoh perubahan pada budaya literasi di sekolah adalah guru dapat menargetkan siswanya untuk menuntaskan 4-5 buku bacaan per tahun. Akan lebih bermanfaat dan meningkatkan kemampuan literasi siswa bila setelah selesai membaca buku, siswa membuat resensi buku yang telah dibaca tersebut. Ngawi 04/07/2022

Share this article :

0 komentar:

OPOSISI NEWS VERSI CETAK

Icon

CHANAL YOUTUBE

OPOSISI RECENT POST

    Oposisi Arsip