Email : oposisi2015@gmail.com... Pusat : Jl. Hayam Wuruk, No 79, Kota Kediri...Sekretariat : Jl. Trunojoyo, Gg. Mayang, No 1/20, Ngawi, Jawa Timur
Home » » Selamat Jalan sang Guru Jurnalis

Selamat Jalan sang Guru Jurnalis

Written By BBG Publizer on Minggu, 11 Juli 2021 | 16.25


Pasuruan_oposisinews.co.id -
Kabar itu mengagetkan. Lebih tepatnya menyesakkan. Kamis petang (08/07/2021) Penulis menerima kabar bahwa salah satu guru kami, Yunanto telah berpulang. Pria kelahiran Singaraja ini menghembuskan nafas terakhirnya di Samarinda, Kalimantan Timur, karena sakit.

Sebagai salah satu murid, Penulis merasakan betul ajaran dari Penasihat PWI Malang Raya periode 2021-2024 ini. Meski hanya sempat bertemu dua kali, tapi "chemistry" itu terasa begitu kental.

Pertemuan pertama kala Penulis bersama rombongan jurnalis Pasuruan lainnya bertandang ke Kota Batu untuk mengikuti diklat jurnalistik. 

Sebagai pemateri, Pak Guru -begitu kami menyapanya- menyajikan dasar jurnalistik dengan gamblang dan mudah dipahami. Penulis jamin: Tak ada satupun peserta yang "enggak mudeng".

Ajaran yang Penulis ingat ialah membuat straight news dengan penulisan yang singkat, lugas, logis, dan taat asas kata baku. Empat kaidah itu yang coba kami (Lumbung Berita) terapkan, walaupun tak selalu berhasil.

"Yang paling saya ingat dari kata Pak Guru yaitu menulis berita harus gampang dipahami, tidak memvonis alias mengedepankan praduga tak bersalah," ujar Jurnalis Lumbung Berita, Miftahul Ulum. 

Lalu ada juga ajaran untuk menulis judul berita tak lebih dari tujuh kata. Sampai saat ini, ajaran ini yang sulit dilakukan. Kami tahu banyak media mainstream lainnya menulis judul lebih dari tujuh kata, tapi kami juga paham, tujuan Pak Guru demi kebaikan kami semua.

Yang tak kalah pentingnya, Pria kelahiran tahun 1958 ini berpesan cukup menohok: Wartawan wajib melek hukum. Bahaya yang mengintai apabila abai adalah bahaya bagi diri sendiri,  bagi keluarga, bagi media, dan bagi masyarakat luas.

"Pahami UU Pers dan pondasi hukum positif, yaitu UU no 8 Tahun 1981 tentang KUHAP. Wajib itu," tegasnya saat itu.

Menariknya, Pak Guru tak mematok tarif. Dalam diklat-diklat ataupun kegiatan lainnya Alumnus Sekolah Tinggi Publisistik Jakarta itu tak pernah memikirkan bayaran.

Semua diberikan secara gratis. Ilmunya dibagikan secara cuma-cuma. Tak heran, Kakek dua cucu ini pernah didatangi oleh pengurus PWI Pusat untuk mengeluhkan sikapnya tersebut.

"Anak muda bekerja untuk mencari uang saku. Wajar. Nah kalau saya, sudah tua, apa yang mau dicari. Saya cuma mencari bekal untuk hidup di alam sana," tegasnya. 

Tak cukup puas dengan pertemuan pada acara diklat, beberapa bulan kemudian Penulis bersama jurnalis Lumbung Berita lainnya -Ulum dan Adi Noto- menyambangi Pak Guru di rumahnya. Tujuannya masih sama: Belajar ilmu jurnalistik!.

Pertemuan kedua ini cukup gayeng. Topik apapun dibahas secara mendetail. Kami bertiga saling bersahutan mengajukan pertanyaan. Pak Guru pun dengan sabar menjawab pertanyaan kami yang kadang terdengar naif itu.

"Berkat Pak Guru, saya yang memulai dunia jurnalis dari nol mulai bisa menulis. Sebelumnya, untuk menulis saja, saya kurang bisa menempatkan kata," ungkap Adi. 

Seusai pertemuan itu, Penulis masih cukup intens berkomunikasi lewat pesan daring. Apapun Penulis tanyakan. Mulai bab hukum sampai bab elementer jurnalistik. Semua dijawab dengan lugas dan sangat memuaskan. Sampai-sampai Adi yang masih haus ilmu mengajak bertandang untuk kali ketiga.

Namun, pertemuan itu rupanya tinggal rencana. Diawali dari diangkatnya Ayah dua anak ini menjadi Penasihat PWI Malang Raya. Otomatis kesibukannya seabrek. Dua kali Penulis gagal bertemu. Kami sadar, keberadaan Pak Guru bagai permata. Dimana-mana dicari orang. 

Tak putus asa, waktu itu kami susun rencana untuk bertamu kembali. Namun lagi-lagi belum kesampaian. Wartawan harian sore Surabaya Post era 1982-2002 itu sakit. Usai opname di Rumah Sakit Malang, Pak Guru diboyong ke rumah putrinya di Samarinda. 

Sampai disini, Penulis dan rekan sejawat tak berani menghubunginya. Kami paham, Pak Guru butuh istirahat ekstra untuk memulihkan kondisi. 

Asa kami untuk bertemu tak padam. Kami sempat semringah tatkala melihat Pak Guru  membagikan foto sedang merangkul dua cucunya.

Dalam angan-angan penulis, mulai terbayang bagaimana suasana tanya jawab layaknya Bapak dengan anak. Serius tapi santai sambil ditemani seduhan kopi dan rokok kretek. 

Namun lagi-lagi asa itu menguap. Tuhan berkehendak lain. Tuhan telah memanggilnya sebelum kami sekadar mengucapkan "say helo".

Pecah sudah kesedihan kami. Gagal sudah rencana kami menghadirkan Pak Guru untuk mengisi diklat di Pasuruan. Dan terhenti sudah kami menggali ilmu darinya.

Sejuta pertanyaan yang kami siapkan, kami simpan kembali. Kenangan foto dan video akan kami bingkai dalam album terindah. Segala kritik dan saran akan kami ukir di sepanjang hayat. 

Hidup memang harus tetap berjalan. Dengan bekal ilmu yang kami terima, kami akan coba pegang teguh dan berjalan sesuai rel yang selama ini diajarkan.

Selamat jalan, Pak Guru. Selamat beristirahat dengan tenang, Pak Yun. Semoga Tuhan menempatkan di tempat terindah. Hormat untuk terakhir kalinya dari Penulis yang masih kesulitan menulis judul tujuh kata.


Jurnalis: tim

Share this article :

0 komentar:

OPOSISI NEWS VERSI CETAK

Icon

OPOSISI RECENT POST

    Oposisi Arsip