Email : oposisi2015@gmail.com... Pusat : Jl. Hayam Wuruk, No 79, Kota Kediri...Sekretariat : Jl. Trunojoyo, Gg. Mayang, No 1/20, Ngawi, Jawa Timur
Home » » Aksi Damai 232 LSM Lira Terkait Pelecehan Wartawan dan LSM Oleh Oknum Inspektorat Kabupaten Probolinggo

Aksi Damai 232 LSM Lira Terkait Pelecehan Wartawan dan LSM Oleh Oknum Inspektorat Kabupaten Probolinggo

Written By BBG Publizer on Senin, 02 Maret 2020 | 20.46

Aksi demo matinya kebebasan Pers didepan Kantor Bupati Probolinggo , Senin 2/03/2020
Probolinggo,Oposisinews.co.id - Meneruskan perjuangan dan mempertahankan hak yang dilindungi UU no 40 tahun 1999 (UU Pers) tentang kebebasan dalam berdemokrasi, Ratusan orang yang tergabung dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lumbung Informasi Rakyak (Lira) Kabupaten Probolinggo, menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Bupati Probolinggo. Senin, 2/3/2020.

Aksi ini merupakan buntut panjang dari pengusiran terhadap Wartawan dan LSM yang dilakukan oleh oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) Inspektorat Kabupaten Probolinggo di Kecamatan Kotaanyar beberapa waktu lalu.

Iring-iringan masa datangi
Kantor Bupati Probolinggo
Sekitar pukul 10.00 WIB iring-iringan massa yang mengatasnamakan LSM Lira langsung menuju kantor Bupati Probolinggo, mereka berorasi dan membawa Batu Nisan, Keranda Mayat serta poster dengan berbagai tulisan mengkritisi Pemkab dan Bupati Probolinggo.

Salah satunya terdapat di keranda bertuliskan, "Matinya Demokrasi Dikabupaten Probolinggo". Ada juga di Batu Nisan bertuliskan, "Kebebasan Pers Probolinggo dan Keterbukaan Publik Probolinggo". Kemudian ada pula poster yang bertuliskan, "Masa punya Bupati cantik gak berani buka anggaran". Lalu ada juga "Kalau terbuka lebih enak, ngapain tertutup. Waaaw".

Dalam aksi damai 232 LSM Lira mengajukan beberapa tuntutan diantaranya,
1. Menentang adanya pegawai pemerintah yang arogan.
2. Menuntut Pemerintah memberikan sanksi tegas terhadap pegawai yang melanggar norma dasar, kode etik dan kode prilaku Aparatur Sipil Negara.
3. Menuntut Ir.Ahsanunnas.MSi. (Pegawai Inspektorat Kabupaten Probolinggo) untuk meminta maaf di depan Publik.
4. Menuntut Ir.Ahsanunnas.MSi. Mengundurkan diri, diberhentikan atau dimutasi.
5. Menuntut agar Pemerintah Daerah Kabupaten Probolinggo dan Pemerintah Desa menjamin keterbukaan informasi publik.
6. Menuntut agar Pemerintah Kabupaten Probolinggo dan Pemerintah Desa untuk terbuka terhadap ingormasi publik mengenai anggaran, penggunaannya dan lain-lain.

Bupati LIRA Probolinggo
Syamsuddin SH
Koordinator aksi Syamsuddin.SH, selaku Bupati LSM Lira Kabupaten Probolinggo, menyampaikan. Aksi yang ia lakukan merupakan sebuah bentuk protes keras kepada Oknum PNS yang berdinas di Inspektorat Kabupaten Probolinggo, agar kedepannya tidak terjadi lagi hal yang serupa.

"Kami juga meminta agar yang bersangkutan mengundurkan diri dari jabatannya. Jika permintaan kani ini tidak di respin, maka akan berusaha untuk memberhentikannya," kata Syamsuddin.

Massa selanjutnya memaksa untuk masuk ke dalam Gedung Kantor Bupati Probolinggo. Akhirnya beberapa orang perwakilan dari massa tersebut di perkenankan masuk untuk beraudensi dengan petinggi Pemkab Probolinggo.( Sol )
Home » » Acara Pembinaan Guru Ngaji Dan Guru Minggu, di Buka Plt. Walikota Blitar

Acara Pembinaan Guru Ngaji Dan Guru Minggu, di Buka Plt. Walikota Blitar

KOTA BLITAR, OposisiNews.co.id - Plt. Walikota Blitar Santoso menganggap guru ngaji dan guru sekolah minggu sebagai ujung tombak di lapangan, terutama dalam hal memberikan bekal kepada anak-anak untuk mampu dan bisa menjalankan keyakinan agamanya dengan baik. Baik tidak hanya teori, tapi betul-betul dilaksanakan ajaran-ajaran yang disampaikan.

“Saya yakin ketika itu dilaksanakan dengan baik, maka visi Kota Blitar yang pertama adalah bagaimana mewujudkan Kota Blitar, masyarakat yang religius itu akan terwujud,” jelas Plt. Walikota Santoso usai membuka kegiatan Pembinaan Guru Ngaji dan Guru Sekolah Minggu se-Kota Blitar di Balai Kota Koesoemo Wicitra Kota Blitar, Senin (02/03/2020).

Santoso mengatakan, lebih-lebih menjelang bulan Ramadhan, untuk itu lebih diintensifkan lagi bagaimana peran guru ngaji dan guru minggu yang ada di Kota Blitar supaya lebih memaksimalkan pembinaannya kepada anak-anak, sehingga ketika memasuki bulan suci Ramadhan, betul-betul tidak ternoda oleh hal-hal yang tidak diinginkan.

Lanjut Santoso mengungkapkan, untuk guru ngaji setiap bulannya mendapat Rp. 200 ribu dan ditahun berikutnya akan dinaikkan menjadi 250 ribu yang diterimakan setiap tiga bulan sekali.

“Jadi kalau diberikan setiap bulannya kurang efektif dan jumlahnya juga sedikit, maka diberikan setiap tiga bulan sekali, sehingga bisa dirasakan,” terangnya.

Menurutnya, hal itu sebetulnya bukan tujuan utama, tetapi yang namanya guru ngaji itu semuanya dilakukan dengan ikhlas. Hal itu adalah sebagai bentuk apresiasi dari pemerintah daerah kepada para guru ngaji, sehingga mereka bisa menjalankan tugasnya dengan baik. (BAS)

Editor.Basuki

Home » » Kongres II Wita Mori Usulkan Raja Mori Menjadi Pahlawan Nasional

Kongres II Wita Mori Usulkan Raja Mori Menjadi Pahlawan Nasional

Raja Mori, Mokole Marunduh (Mokole = Sultan)
Kolonodale,OposisiNews.co
Id - Kongres II Wita Mori di Kolonodale, Morowali Utara secara resmi mengusulkan Raja Mori, Mokole Marunduh, sebagai Pahlawan Nasional dari Provinsi Sulawesi Tengah. Hal itu diungkapkan Pramaartha Pode kepada media ini, Minggu, 1 Maret 2020. Doktor Ilmu Politik UGM itu mengatakan, usulan tersebut dimunculkan mengingat saat ini belum ada Pahlawan Nasional dari Sulawesi Tengah.

“Raja Mori, Mokole Marunduh, gugur di medan perang melawan Belanda di Benteng Wulanderi. Tidak seperti daerah lain yang rajanya takluk kepada Belanda, Raja Mori memilih lebih baik mati daripada menyerah kepada Belanda,” ujar Praamartha Pode menjelaskan secara singkat tentang pengorbanan Mokole Marunduh.

Putra Asli Daerah Morowali Utara melanjutkan bahwa dengan peran yang sangat besar di masa kemerdekaan, Raja Mori Mokole Marunduh layak diberi anugerah sebagai pahlawan nasional. "Menurut hemat kami, Raja Mori ini sangat layak diberi penghargaan berupa gelar Pahlawan Nasional," imbuh Pode.

Lebih lanjut, anggota Dewan Pakar Badan Musyawarah Adat Sulawesi Tengah itu menargetkan tahun 2021 usulan ini sudah dapat dipertimbangkan Pemerintah Pusat karena proses pengurusannya berjenjang mulai dari Kabupaten, Provinsi dan terakhir di Pusat. Usulan ini diterima dengan baik oleh Kongres II Wita Mori dan akan segera diproses sesuai dengan ketentuan aturan yang berlaku.

Pemberian gelar pahlawan nasional ini, tentunya berpedoman pada UU No. 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, khususnya pasal 26. Dalam pasal ini dijelaskan gelar yang diberikan kepada seseorang yang telah meninggal dunia dan yang semasa tinggal pernah melakukan perjuangan atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

*Perkuat Silaturahmi Sesama Anak Suku Mori*

Kongres II Wita Mori dilaksanakan di gedung Tepo Asa Aroa Morokoa, di Kota Kolonodale, sebuah kota tua di mulut Teluk Tolo, yang saat ini menjadi Ibukota Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Kongres berlangsung selama 2 hari, yakni tanggal 28-29 February 2020. Ketua Panitia Reimon Monsangi, SE melaporkan bahwa pelaksanaan Kongres Wita Mori diselenggarakan berdasarkan pasal 18 b dan Pasal 28 i UUD 1945, AD/ART Dewan Adat Wita Mori, Akta Notaris Dewan Adat Wita Mori dan Keputusan Dewan Adat Wita Mori tentang panitia penyelenggara kongres Wita Mori.

Tujuan dilaksanakan Kongres II Wita Mori yaitu dalam rangka menghimpun berbagai pendapat dan gagasan dari berbagai perspektif narasumber. Dengan demikian peserta Kongres terarah dan termotivasi merumuskan sikap, mewujudkan masyarakat Mori yang beradab inklusif, damai, dan demokratis. Hal itu dapat dicapai melalui bahasa, adat istiadat dan budaya serta kesenian.

Selain itu juga untuk menanamkan kembali idealisme To Mori (Orang Mori) dalam merajut kebersamaan Wita Mori (Morowali Utara) menjadi daerah kabupaten yang maju di Provinsi Sulawesi Tengah.

Bupati Morowali Utara Ir. Aptripel Tumimomor, MT memberikan apresiasi kepada seluruh pihak terkait, khususnya panitia, yang telah berupaya mewujudkan Kongres II Wita Mori dapat terlaksana. Bupati Morowali Utara bersyukur atas perhatian dan kepedulian para Tokoh Wita Mori, baik yang berada di Kabupaten Morowali Utara maupun di luar (perantauan), dalam rangka ikut menjaga serta melestarikan nilai luhur budaya Wita Mori.

Bupati mengatakan dirinya optimis pelaksanaan Kongres Wita Mori II dapat berjalan dengan baik dan sukses. "Jadikan Tepo Asa Aroa sebagai wadah dalam mewujudkan pemikiran dan gagasan, khususnya mempersatukan 44 anak suku Wita Mori di kabupaten morowali Utara," harap Bupati Tumimomor.

Semangat Tepo Asa Aroa dikedepankan untuk menjalin tali silaturahmi antar anak suku Mori. Diharapkan melalui kegiatan tersebut, seluruh peserta Kongres juga ikut membahas serta melahirkan inovasi dalam melestarikan budaya Wita Mori. (PDE)


OPOSISI NEWS VERSI CETAK

Icon