Email : oposisi2015@gmail.com... Pusat : Jl. Hayam Wuruk, No 79, Kota Kediri...Sekretariat : Jl. Trunojoyo, Gg. Mayang, No 1/20, Ngawi, Jawa Timur
Home » » Ambulance Ditahan 1 Jam, Kades Hikong "ItuTidak Benar"

Ambulance Ditahan 1 Jam, Kades Hikong "ItuTidak Benar"

Written By BBG Publizer on Rabu, 27 Mei 2020 | 19.43

Sikka, Oposisinews.co.id- Aksi pemblokiran jalan negara pada Sabtu, 23/05/2020, di Desa Hikong, yang dilakukan oleh Kepala Desa Hikong, Agustinus Adeodatus dan warganya berujung kematian seorang bayi, kini menjadi sorotan publik.

Dikabarkan, meninggalnya bayi tersebut disebabkan karena mobil ambulance yang membawa pasien rujukan asal Flores Timur yang hendak partus menuju RSUD Maumere ikut tertahan selama 1 jam di wilayah perbatasan tepatnya di Desa Hikong, sehingga bayi di dalam kandungan ibu itu meninggal sebelum masuk ruang UGD RSUD TC Hillers Maumere.

Kepala Desa Hikong, Agustinus Adeodatus, saat dikonfirmasi awak media OposisiNews, Senin (25/05/2020), membenarkan adanya aksi pemblokiran jalan tersebut, namun kata dia, pihaknya tidak berniat menghalangi mobil ambulance, tetapi pihaknya malah membongkar penghalang jalan serta melakukan pengaturan kendaraan yang lagi antri agar mobil ambulance dapat diberi kesempatan untuk lewat.

"Informasi ambulance ditahan satu jam itu tidak benar. Karena mobil ambulance itu berada paling belakang dari antrian panjang itu, sehingga butuh waktu 15 menit untuk bisa lewat, karena saat itu kami harus atur mobil antri agar ambulance diberikan jalan untuk lewat," bantah Kades Adeo.

Adeo menjelaskan, aksi pemblokiran jalan tersebut merupakan akibat dari kekesalan dirinya bersama warganya terhadap perlakuan Satgas Covid pada posko Kabupaten Flores Timur di Boru yang menolak masyarakat Desa Hikong yang hendak masuk ke Boru karena dianggap sebagai pembawa virus corona.

"Petugas Covid di Boru sudah membuat pengecualian. Warga saya tidak diijinkan masuk karena dianggap sebagai pembawa virus corona. Saya pun mengalami langsung perlakuan ini. Saat saya mau mengambil uang di ATM BRI di Boru, saya tidak diijinkan lewat karena tidak mengantongi surat keterangan rapid test.

Hal inilah yang menyebabkan kami melakukan aksi tersebut. Sekaligus membantu agar orang Flores Timur tidak terkena virus. Pemblokiran ini juga ada pengecualian, Mobil ambulance lewat terus. Tindakan itu tidak berniat melakukan penggalangan terhadap mobil ambulance," ujar Kades Adeo.

Kades Adeo juga menyampaikan permohonan maaf serta duka cita yang mendalam atas meninggalnya bayi tersebut.

"Saya atas nama pribadi dan pelaku perjalanan pada waktu itu menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya dan turut berduka cita yang mendalam atas meninggalnya bayi itu," ungkapnya.

Secara terpisah, Sekretaris Dinas Perhubungan Kabupaten Sikka, Verdinando Lepe, S.Sos, saat ditemui Oposisinews, Senin (25/5/2020) mengatakan ketika ambulance yang membawa ibu hamil itu tiba, sedang terjadi antrian panjang dan saat itu, Ia bersama petugas Dishub sedang berada di lokasi tersebut.

Dikatakannya, setelah mendapat informasi ada pasien darurat di dalam ambulance tersebut, Ia segera bergegas memerintahkan warga membuka penghalang jalan untuk dilalui ambulance, karena menurutnya kewajiban mendahulukan kendaraan ambulance sudah diatur dalam aturan Internasional maupun dalam undang-undang Nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan jalan raya.

Selain itu, merujuk pada PP Nomor 21 Tahun 2020 dan Peraturan Menteri Perhubungan No 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi, jelas Verdinando, terdapat beberapa moda transportasi yang mendapatkan pengecualian dari pelarangan ini, yakni kendaraan keamanan negara, ambulance dan logistik.

"Menurut aturan, ambulance tidak bisa dihalangi sehingga saya perintahkan agar penghalang jalan dibuka agar ambulance bisa lewat. Dalam waktu sekitar 15 menit, portal berhasil dibuka. Jadi mobil ambulance tertahan sekitar 15 menit," kata Verdinando. (EN)

Reporter : Ernensia
Share this article :

0 komentar:

OPOSISI NEWS VERSI CETAK

Icon