Email : oposisi2015@gmail.com... Pusat : Jl. Hayam Wuruk, No 79, Kota Kediri...Sekretariat : Jl. Trunojoyo, Gg. Mayang, No 1/20, Ngawi, Jawa Timur
Home » » Terdakwa Penghina Wartawan Dituntut 5 Bulan Penjara

Terdakwa Penghina Wartawan Dituntut 5 Bulan Penjara

Written By BBG Publizer on Jumat, 06 Desember 2019 | 18.14

OposisiNews.co.id *Terdakwa kasus pencemaran nama baik dan penghinaan Ir. Faaz dituntut 5 bulan penjara oleh Jaksa Penuntut Umum- JPU Retna Wulaningsih SH MH  pada sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Yogyakarta (05/12/2019).
Terdakwa  Faaz dituduh melakukan tindak pidana penghinaan dan pencemaran nama baik terhadap Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo), Ir. Soegiharto Santoso alias Hoky yang juga Wapemred Media Online Info Breaking News.

Dalam tuntutan jaksa, terdakwa Ir. Faaz dituduh bersalah karena menulis kata “Kutu Kupret’ yang ditujukan kepada korban di kolom komentar pada akun facebook milik korban Soegiharto Santoso  dan Group Apkomindo.

Sejumlah saksi yang dihadirkan antara lain, Felix Lukas Lukmana,  Sugiyatmo, Ir. Muzakkir, Michael Sunggiardi,  Rudi D Muliadi, dan saksi ahli bahasa Dra. Wiwin Erni Siti Nurlina,  saksi ahli ITE Josua Marojahan Sinambela, maupun saksi ahli pidana DR. Mudzakkir, Prof. DR. Edward Omar Sharif Hiariej dan Prof. DR. Marcus Priyo Gunarto memberikan keterangan bahwa para saksi mengerti tentang komentar yang diampasikan terdakwa Faas pada kolom komentar akun facebook milik korban adalah ditujukan kepada saksi korban Hoky, karena komentar tersebut merupakan respon balasan atas postingan tulisan dari saksi korban Hoky. Sedangkan Saksi yang meringankan terdakwa Henkyanto Tjokroadhiguno dinilai banyak menerangkan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan perkara.

Keterangan Saksi ahli juga menyatakan kata-kata yang ditulis oleh terdakwa Ir. Faaz tersebut sangat jelas merupakan penghinaan atau pencemaran nama baik, karena saksi Hoky disamakan dengan kutu kupret yang dapat diartikan kutu adalah hewan dan kupret atau kampret juga berarti hewan.

Saksi korban Hoky mengaku diserang kehormatannya, dijelek-jelekkan, dan direndahkan martabatnya dengan berbagai tudingan antara lain, destruktif, actor intelektual pemecah belah tali silaturahmi, zolim, aktor JAHAT, mengaku-aku Ketum APKOMINDO.

Padahal menurut fakta yang sebenarnya,  saksi korban Hoky adalah benar Ketum APKOMINDO untuk masa kepemimpinan 2015-2018, yang kemudian diperpanjang sampai tahun 2019, dan pada tanggal 25 September 2019 dalam Munas APKOMINDO terpilih kembali menjadi Ketum APKOMINDO untuk masa jabatan 2019-2023.

Bahwa Saksi Hoky juga telah mempunyai SK Menkumham yaitu AHU 156.AH.01.07 tahun 2012, kemudian setelah menang gugatan di PTUN dan di PTTUN serta di MA pada tanggal 7 September 2017, memperoleh SK Menkumham  nomer AHU 00478.AH.01.08.tahun 2017 dan selanjutnya untuk Ketum Apkomindo periode 2019-2023 telah memperoleh SK Menkumham Nomor AHU-0000970.AH.01.08.Tahun 2019 tanggal 25 Oktober 2019.

Bahwa berdasarkan pendapat ahli ITE Josua Marojahan Sinambela, ketiga akun facebook Soegiharto Santoso, akun Faaz Ismail maupun akun grup APKOMINDO, adalah bersifat public/terbuka, sehingga siapapun bisa membuka, mengakses, bisa join didalamnya.  Bahwa dalam grup APKOMINDO terlihat anggotanya lebih dari 1.000 orang, dan yang dapat mengakses selain anggota juga bisa kalangan umum selain anggota, termasuk hakim, jaksa dan siapapun sepanjang ada koneksi internet bisa mengaksesnya, membuka atau melihatnya.

Sementara berdasarkan pendapat ahli bahasa Dra. Wiwin Erni Siti Nurlina, M.H bahwa  secara linguistik komentar terdakwa dalam facebook dengan sebutan kutu kupret adalah bermakna binatang yang menghisap darah hewan/ manusia. Kata Kutu Kupret merupakan kata dari bahasa jawa yang merupakan plesetan dari kata kampret. Kata kutu kupret mempunyai makna negatif yang bersifat makian, pisuhan dan ketika dilontarkan ke nama orang maka menjadikan makna negatif. Saksi ahli juga menegaskan, dalam tulisan yang diposting oleh terdakwa itu, maka konteksnya adalah serius bukan guyonan.

Pendapat ahli a de charge Prof DR. Marcus Priyo Gunarto dalam keteranganya juga mengakui bahwa tulisan terdakwa yang mengatakan kutu kupret jelas adalah penghinaan atau pencemaran nama baik. Bahkan ahli sendiri mengatakan kalau itu ditujukan kepadanya maka pasti akan dilaporkan, karena ahli juga tidak terbiasa menggunakan kata-kata kasar.

Berdasarkan keterangan para saksi di atas, JPU menyatakan terdakwa Ir. FAAZ terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik sebagaimana dimaksud dalam pasal 45  ayat (3) jo pasal 27 ayat (3)  UU RI nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, sebagaimana dalam dakwaan dan menjatuhkan tuntutan pidana kepada terdakwa Ir. FAAZ dengan pidana penjara selama 5 (lima) bulan.

Sementara itu, Hoky selaku saksi korban kepada awak media mengaku kecewa atas tuntutan JPU terhadap terdakwa. Sesungguhnya, menurut Hoky, sanksi hukuman maksimalnya 4 tahun. “Saya saat dikriminalisasi oleh kelompok Terdakwa, langsung ditahan dan dituntut penjara selama 6 tahun meski tidak terbukti bersalah dan ditambah denda Rp 4 Miliar,” ungkap Hoky.

Hoky menambahkan, JPU sepertinya lupa menuliskan dalam tuntutannya hal-hal yang memberatkan terdakwa. Padahal Terdakwa telah memberikan keterangan palsu bahwa kata kutu kupret hanya ditulis terdakwa pada akun facebook milik grup Apkomindo. “Padahal faktanya kometar terdakwa tersebut masih bisa diakses di akun facebook saya,” pungkas Hoky.
Hoky yang juga sempat menjadi Ketua Panitia Kongres Pres Indonesia 2019 mengharapkan bantuan rekan-rekan sesama media, baik yang hadir saat Kongres Pres Indonesia 2019 maupun yang belum berkesempatan hadir di Gedung Asrama Haji Pondok Gede Jakarta (6/3) untuk dapat membantu mempublikasi proses sidang penghinaan dan pencemaran nama baik di akun Facebook yang saat ini sedang proses sidang setiap hari Kamis di Pengadilan Negeri Yogyakarta. ***


Home » » GELAR RE-AKREDITASI, PUSKESMAS BORU OPTIMIS NAIK KELAS

GELAR RE-AKREDITASI, PUSKESMAS BORU OPTIMIS NAIK KELAS

Ft.Akreditasi kesehatan di Kecamatan Wulanggitang , Flores Timur. NTT
FLOTIM, OPOSISI NEWS.CO.ID - Bertujuan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan terhadap masyarakat oleh Puskesmas, maka Dinas Kesehatan Kabupaten Flores Timur menggelar kegiatan Survei Akreditasi Puskesmas oleh Surveior Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Kementerian Kesehatan RI di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Boru, di Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, NTT, 5 - 8 Desember 2019.

Pantauan Media OposisiNews.  Antusias, semangat, serta optimis petugas Puskesmas Boru untuk menghadapi masa re-akreditasi sangat terlihat dari giat-giat pra-akreditasi, antara lain pelatihan peningkatan kinerja petugas, pelatihan pemahan instrumen akreditasi, serta pembersihan lokasi Puskesmas dan penataan ruangan, hingga pada hari terlaksananya re-akreditasi.

Sebanyak 3 tim surveior yang ketuai oleh dr. H. Hendro Santoso, MSi, Surveior Administrasi dan Manajemen, beserta dr. Erna Harnanie, Surveior Upaya Kesehatan Perorangan (UKP), Abdul Azis, SKM, M.Kes, Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM).

Pimpinan Puskesmas Boru, Anastasia N. Kewuan, dalam sambutan pembukaan kegiatan  mengatakan, Puskesmas Boru telah melakukan upaya-upaya menerapkan prinsip peningkatan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat agar proses pelaksanaan re-akreditasi dapat berjalan optimal. Ia optimis akan ada hasil yang baik usai kegiatan tersebut.

"Terimakasih kepada tim Surveior yang sudih datang untuk melakukan penilaian terhadap Puskesmas ini. Kami dengan segala kekurangan kami. Apapun hasil penilaian Surveior, kami jadikan acuan dan motifasi untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas petugas demi peningkatan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat dan terbinanya Puskesmas yang berkinerja baik", kata Anastasia Kewuan.

Hal Senada disampaikan Kepala Desa Boru, Benediktus Baran Liwu bahwa Pemerintah dan masyarakat Desa Boru sangat mendukung kegiatan ini, dengan segala kemampuan yang ada, kata Benediktus, Puskesmas Boru telah memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat.

"Kita semua berharap, re-akreditasi ini dapat meningkatkan sistem kerja petugas kesehatan. Kapibilitas dan mutu pelayanan kesehatan itu sangat penting. Bagian yang paling penting dalam pembangunan adalah kesehatan, karena orang sehat baru bisa membangun", kata Benediktus.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, dr. Hendro selaku pimpinan tim Surveior, menerangkan re-akreditasi Puskesmas merupakan sebuah penilaian dengan menggunakan standar yang ditetapkan melalui mekanisme akreditasi yang bertujuan menjamin peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat yang berkesinambungan.

"Kami akan memotret fakta-fakta dan membandingkannya dengan standar akreditasi yang telah ditetapkan, selanjutnya melaporkan seluruh hasil ke Komisi Akreditasi." terang dr. Hendro.

Selain itu, kata Hendro, untuk pelaksanaan survey sendiri, akan ada pemeriksaan dokumen eksternal dan internal, wawancara pimpinan Puskesmas, lintas sektor, pasien, keluarga pasien, serta masyarakat, selanjutnya akan dilaksanakan observasi sebagai bukti pelaksanaan kegiatan.

Hadir Dalam kegiatan pembukaan tersebut, segenap petugas Puskesmas Boru, petugas Puskesmas Ile Bura, petugas Puskesmas Lato, para Kader Posyandu,  Sejumlah Kepala Desa se-Kecamatan Wulanggitang, Perwakilan Polsek Wulanggitang, Perwakilan Kodim 1624 Wulanggitang serta para undangan. (*AL-01)

Reporter.Martin
Editor .Bambang PW

OPOSISI NEWS VERSI CETAK

Icon