Email : oposisi2015@gmail.com... Pusat : Jl. Hayam Wuruk, No 79, Kota Kediri...Sekretariat : Jl. Trunojoyo, Gg. Mayang, No 1/20, Ngawi, Jawa Timur
Home » » BUPATI SAIFUL ILAH TERIMA PENGHARGAAN KATAGORI KEPALA DAERAH KOMITMEN TINGGI PEDULI KETAHANAN PANGAN

BUPATI SAIFUL ILAH TERIMA PENGHARGAAN KATAGORI KEPALA DAERAH KOMITMEN TINGGI PEDULI KETAHANAN PANGAN

Written By BBG Publizer on Selasa, 19 November 2019 | 21.55

Bupati Sidoarjo , Saiful Ilah menerima penghargaan Simavora 2019

Sidoarjo.OposisiNews.co.id – Peringatan Hari Pangan Sedunia ke-39 provinsi Jatim mengambil tema “Melalui inovasi teknologi pertanian dan pangan kita wujudkan Nawa Bhakti Satya Jawa Timur Sejahtera”.

Pada kesempatan itu Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa memberikan penghargaan kepada kab/kota yang dinilai berhasil dalam berinovasi dalam bidang ketahanan pangan. Selain itu, Gubernur Jatim juga memberikan penghargaan kepada bupati/walikota yang memiliki komitmen tinggi peduli ketahanan pangan. Di Jatim Expo , Surabaya ,Selasa 19/11/2019.

Salah satunya adalah Bupati Sidoarjo, Saiful Ilah yang menerima penghargaan sebagai kepala daerah yang memiliki komitmen tinggi peduli lingkungan dengan kategori Inovasi Pengembangan Pangan Lokal (Simavora).

Gubernur Khofifah minta agar pemerintah daerah terus mendorong inovasi di bidang pertanian dan teknologi pengolahan pangan.Tujuannya untuk mewujudkan kedaulatan pangan daerah di Jawa Timur.

"Beras Jawa Timur sudah mengalami surplus hingga 3,7 juta ton per tahun", ujar Khofifah.

Usai menerima penghargaan, Bupati Saiful Ilah terus mendorong Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sidoarjo untuk terus berinovasi. "Selain dibutuhkan komitmen dari kepala daerah, peran dinas terkait dan stakeholder juga sangat menentukan", khatanya. (Bag).
Home » » INISIATIF REKONSILIASI KONFLIK ANTAR DUA DESA ADAT ‘ HODIK PADAK ‘

INISIATIF REKONSILIASI KONFLIK ANTAR DUA DESA ADAT ‘ HODIK PADAK ‘


“Damainya lahir dari kesadaran bahwa berdamai dan bersatu akan berdampak pada hasil kerja dan kesuksesan hidup. Supaya usaha lancar, kerja tanpa hambatan, tanaman subur jauh dari hama dan penyakit maka relasi antar manusia juga harus baik. Sehingga alam, leluhur dan Rera Wulan Tana Ekan menurunkan hujan berkat dan hidup manusia berbuah dan bermakna, hingga syukur dan bakti bisa terjadi ” ( Di kutip dari kata mutiara Budayawan Lewotala , Flores Timur ,Silvester Petara Hurit )

Ritual Hodik Padak ( Ritual Damai )
Flores Timur, OposisiNews.co.id- Penyelesaian konflik tidak bisa terpisahkan dari rekonsiliasi karena hal tersebut merupakan salah satu proses pembentukan perdamaian yang tertuju pada implementasi praktis secara damai dengan dasar insiatif masyarakat serta kesamaan kearifan lokal,  sehingga mempunyai efek yang sangat penting dimana masyarakat setempat berniat dan turut serta menjaga hubungan kekerabatan.

Hal tersebut telah dilakukan oleh masyarakat Desa Lewotala (Bentala) dan Desa Wailolong dalam kurun waktu 38 tahun terlibat konflik yang bersifat sporadis. kini konflik tersebut telah menawarkan sebuah perdamaian yang langgeng. Perdamaian yang bersifat abadi itu menjadi sebuah kerinduan ke dua Desa tersebut  yang telah terpenuhi.

Secara tradisi budaya, masyarakat kedua desa tersebut menggelar ritual adat Hodik Padak sebagai lambang rekonsiliasi atas konflik belum lama ini pada Sabtu, 16/11/2019. Hodik Padak sendiri secara harafiah berarti menyambung atau mendekatkan dua hal/benda untuk kemudian dikuatkan dalam satu ikatan.

Konflik yang melibatkan kedua kampung adat terjadi sejak tahun 1981 dipicu  persoalan menyangkut penguasaan dan pemanfaatan sumber air di Wailuka di desa Lewotala. Konflik ini kemudian menyebabkan situasi yang tidak kondusif antara kedua desa meski tidak berujung pada bentrokan secara fisik.

Ketika kedua masyarakat adat ini hendak memanfaatkan lahan di daerah yang disebut dengan Ma Lema yang menjadi tempat persinggungan antara kedua desa ini, kedua masyarakat adat  kemudian bersepakat untuk menyelenggarakan sebuah ritual adat karena kedua masyarakat adat  yakin bahwa konflik yang telah berlangsung selama ini menghambat proses bertani berdampak menurunnya hasil pertanian ke dua desa .

Kesepakatan dan kondisi inilah yang kemudian menginsipari diadakanya ritual Hodik Padak. Proses ritual seperti Gili Wua dan penyembelihan hewan kurban sebagai bentuk rekonsiliasi dilaksanakan dihalaman rumah adat Lewotala yang melibatkan masyarakat dari kedua kampung adat.
Masyarakat dari desa Wailolong dijamu dan dilayani oleh masyarakat Lewotala sebagai bukti persaudaraan, persahabatan dan rasa kekeluargaan atas rekonsiliasi yang telah terjadi. Setelah diadakan di Lewotala, ritual yang sama akan kembali digelar di Desa Wailolong (18/11/2019).

Acara ini dihadiri oleh Wakil Bupati Flores Timur Agustinus Payong Boli, S.H, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Flores Timur Apolonia Corebima, SE,M.Si, Kepala Bidang Pengembangan Seni dan Budaya Cornelia S. Koten, S.Sos, Camat Lewolema Bernadus S. Tukan, Camat Ile Mandiri Ramon Piran, tokoh agama, tokoh masyarakat dan adat serta masyarakat umum .

Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli,S.H, yang turut hadir dalam ritual ini menyampaikan bahwa ritual semacam ini harusnya menjadi model penyelesaian konflik antara masyarakat sehingga konflik yang terjadi pada tingkat masyarakat dapat diselesaikan sendiri oleh masyarakat setempat.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Flores Timur, Apolonia Corebima, SE. M.Si, bahwa Hodik Padak merupakan wujud nilai-nilai ke-Lamaholot-an yang harus tetap dipertahankan dan diwariskan sebagai sebuah upaya penyelesaian konflik antara masyarakat. Generasi muda-pun seharusnya melihat ini sebagai sebuah warisan budaya Lamaholot yang harus dikedepankan ketika terjadi konflik antar masyarakat.

“Di sini, ada nilai saling memaafkan, saling terbuka dan semangat persaudaraan. Inilah yang menjadi kekuatan kita sebagai orang Lamaholot, sehingga inisiatif-inisiatif seperti ini harus terus dilakukan tanpa harus menunggu pemerintah dan aparat keamanan yang turun tangan,” lanjutnya.

Silvester Petara Hurit sebagai salah satu budayawan Flores Timur yang juga berasal dari Lewotala pun menegaskan hal yang sama. Menurutnya, cara menyelesaikan konflik secara adat adalah kearifan lokal yang unik dan sangat bernilai bahkan dalam konteks zaman sekarang. (AL- 01)
Home » » DUA KAMPUNG DI LARANTUKA JADI KAMPUNG LITERASI PERTAMA DI FLORES TIMUR

DUA KAMPUNG DI LARANTUKA JADI KAMPUNG LITERASI PERTAMA DI FLORES TIMUR





Flores Timur, OposisiNews.co.id - Kota Sau dan Kota Rowido ( Kosaro ) Kelurahan Sarotari Tengah dicanangkan sebagai Kampung Literasi pertama di Kabupaten Flores Timur.

Acara peresmian dilaksanakan oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Flores Timur, Drs. Petrus Pedo Maran, M.Si, selaku pejabat yang mewakil Bupati Flores Timur, belum lama ini, pada Minggu, 17/11/2019 , bertempat di halaman pojok baca kampung Literasi Kosaro sebelah Timur Taman Doa Tuan Maninu, Kelurahan Sarotari Tengah Kecamatan Larantuka.

 Acara ini terselenggara atas kerjasama Simpasio Institut Lembaga Arsip dan Kajian Sosial Budaya Flores Timur, bekerja sama dengan Kelurahan Sarotari Tengah Kecamatan Larantuka.

Dalam sambutan Bupati Flores Timur yang dibacakan oleh Asisten Perkenomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Flores Timur, Bupati Anton mengatakan SimpaSio Insitut hadir karena masyarakat, maka masyarakat akan selalu berada bersama SimpaSio.

Hadir pada kesempatan itu, Staf Direktorat Pembinaan Pendidikan Kesetaraan dan Keaksaraan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Untung, Staf Balai Pengembangan Paud dan Dikmas Provinsi NTT, Rini Astuti, Direktur Simpasio Institut Bernardus Tukan, Lurah Sarotari Tengah, Dorothea Jebe, dan peserta kemah budaya dan undangan lainnya.

Lanjut Bupati Anton Hadjon, SimpaSio Institute yang bergerak sebagai sebuah lembaga arsip dan kajian budaya di Flores Timur tentunya menggagas kegiatan ini karena menyadari adanya berbagai persoalan budaya yang ada pada masyarakat Flores Timur khususnya masyarakat Kota Sau dan Rowido.

Menurut Bupati Anton Hadjon, Pemerintah Kabupaten Flores Timur sangat mengapresiasi kegiatan yang berhubungan dengan literasi dan budaya seperti ini.

 “Larantuka sebagai ibu kota Kabupaten Flores Timur telah sejak lama dihuni oleh masyarakat yang datang dari berbagai tempat dengan membawa serta kebudayaannya. Dengan adanya kegiatan sejenis tentunya besar harapan kita bersama bahwa masyarakat Flores Timur tidak akan pernah kehilangan orientasi budayanya yang dapat berdampak pula pada terjadinya disintegrasi diri”, pesan bupati Anton Hadjon.

Bupati Anton Hadjon juga berharap kegiatan ini bisa dimanfaatkan sebagai salah satu momentum untuk meningkatkan budaya literasi di wilayah Flores Timur yang telah dideklarasikan sebagai Kabupaten Literasi.

Bupati Anton Hadjon mengajak untuk sama-sama bergandengan tangan, mempersembahkan bakti diri dalam mewujudkan Flores Timur yang semakin sejahtera dalam bingkai Desa Membangun, Kota Menata.


Untung, Staf Direktorat Pembinaan Pendidikan Kesetaraan dan Keaksaraan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, mengatakan kegiatan seperti ini sangat luar biasa dan berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Flores Timur, Direktur SimpaSio, pegiat Literasi dan komunitas adat yang telah mendudung kegiatan ini. Menurutnya, Kegiatan Kampung Literasi ini adalah suatu wilayah untuk menumbuh kembangankan minat baca .

Tujuannya kegiatan kampung literasi ini menyampaikan informasi seluas mungkin pada masyarakat tentang bagaimana upaya untuk meningkatkan minat baca dan budaya baca dan supaya pemerataan bahan bacaan ini sampai kemasyarakat.

 “Syukur ada SimpaSio Intitute yang bisa melihat personal – persoalan yang dialami oleh masyarakat, sehingga kedapannya bisa membangkitkan minat baca dan budaya baca masyarakat. Harapan kegiatan pencanangan Kampung Literasi ini tidak sampai disini, tapi merupakan titik awal untuk bangkit sehingga kedepannya akan tersusun rencana tindak lanjut dari Kampung Literasi ini”, kata Untung.


Lurah Sarotari Tengah, Dorothea Jebe sebagai tuan rumah menyampaikan gambaran umum berkaitan dengan adanya pustaka SimpaSio di Kelurahan Sarotari Tengah ini yaitu akibat pertumbuhan perkembangan penduduk masyarakat Sarotari Tengah yang begitu cepat dengan berbagai agama, budaya, dan juga perkembangan teknologi informasi melalui media cetak media elektronik maupun media sosial sehingga menyebabkan hilangnya budaya lokal khusunya budaya lokal kehidupan masyarakat di bidang pertanian dan nelayan.

“Untuk mengatasi hal ini dengan bimbingan dari  Bernadus Tukan sebagai Direktur SimpaSio dan bekerja sama dengan OPD terkait , kami Pemerintah Kelurahan Sarotari Tengah membentuk pengurus SimpaSio Institute di tingkat Kelurahan, yang  pada hakekatnya mendukung pustaka Simpasio ini”, jelas Dorothea.

Kegiatan yang dilakukan pustaka SimpaSio adalah menghidupkan kembali kegiatan yang sebelumnya sudah hilang yakni mendongeng untuk anak – anak, membaca, menggambar, menciptakan permainan lokal.

 SimpaSio Institute sebagai Lembaga arsip dan Kajian Sosial Budaya juga melatih anak untuk daur ulang dari bahan plastik untuk membuat kerajinan dan mengangkat kembali makanan lokal yang hampir punah.

 “Atas dasar ini kami Pemerintah bekerjasama dengan pengurus Simpasio Institut membuka kegiatan Taman Bacaan dan dilanjuti dengan kemah budaya selama tiga hari dari 15 – 17 Nopember 2019. Harapannya agar semua pihak terus mendorong gemar membaca di masyarakat khusunya bagi anak – anak untuk memperkuat kualitas diri sendiri dan juga sebagai langkah nyata kemudahan layanan informasi serta akses pengetahuan”, kata Dorothea.

Ketua Pelaksana SimpaSio Institute, Magdalena Oa Eda Tukan, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada Kementerian RI yang mempercayakan SimpaSio Institute bekerja sama dengan Pemerintah Kelurahan Sarotari Tengah untuk melaksanakan program peningkatan budaya membaca kampung literasi. Sebagai Lembaga yang telah berbadan hukum sejak 2016, Program Kampung

Literasi merupakan program pertama yang didapatkan SimpaSio Intitute dari Pemerintah Pusat. Ada 3 kegiatan besar yang akan dilaksanakan oleh SimpaSio Intitute dalam tahun 2019, yakni Festifal Serwisu bebuda, Literasi pangan lokal, dan kemah lterasi Sains sampai pada puncak pencanangan kampung Literasi.


“Untuk itu hari ini kami mengajak bapak / ibu untuk melakukan pencanangan simbolik tapi kami butuh doa,dukungan untuk terus ber-ernergi dan ber-sinergi membangun Lewotana dengan cara anak muda.Terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Flores Timur dalam hal ini Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Flores Timur atas koordinasi dan konsultasi selama menjalankan program ini kampung Literasi. Ibarat buah yang telah ranum di pohon kini tiba saatnya untuk memaklumkan bahwa Kampung Kota Sau dan Kota Rowido Kelurahan Sarotari Tengah adalah Kampung Literasi Pertama di Kabupaten Flores Timur”, tutup Eda Tukan.  (AL-O1)
Home » » JELANG MUSIM HUJAN KAPOLRESTA SIDOARJO CEK KESIAPAN PENANGGULANGAN BENCANA

JELANG MUSIM HUJAN KAPOLRESTA SIDOARJO CEK KESIAPAN PENANGGULANGAN BENCANA


Kapolresta cek kesiapan banjir

Sidoarjo ,OposisiNews.co.id  - Dalam mengantisipasi bencana alam, Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol. Zain Dwi Nugroho melakukan pengecekan kesiapan personel dan perlengkapan siaga bencana yang dimiliki Polresta Sidoarjo dan Polsek jajaran, Senin 18/11/2019.

"Pengecekan ini sebagai langkah kesiapsiagaan Polresta Sidoarjo dan Polsek jajaran menghadapi musim hujan, serta guna mengantisipasi apabila terjadi bencana alam di wilayah kita," ujar Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol. Zain Dwi Nugroho.

Bencana alam memang tidak dapat kita cegah, namun dapat diminimalisirkan (mitigasi bencana) dampaknya, serta semua harus siap apabila sewaktu-waktu ada musibah bencana alam. Termasuk personel dan perlengkapan penanganannya.

“Periksa kesiapan seluruh personel, peralatan dan dukungan logistik untuk mengantisipasi secara dini apabila terjadi bencana. Jangan lupa untuk terus berkomunikasi dan melibatkan instansi terkait dan TNI apabila terjadi musibah bencana alam mendadak, atau tanda-tanda akan terjadinya bencana, misalkan hujan lebat, juga lainnya," pesan Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol. Zain Dwi Nugroho kepada personelnya.khatanya (bag).
Home » » SYUKURAN KADES PATAAN KECAMATAN SAMBENG KABUPATEN LAMONGAN GELAR PENGAJIAN AKBAR

SYUKURAN KADES PATAAN KECAMATAN SAMBENG KABUPATEN LAMONGAN GELAR PENGAJIAN AKBAR

Subakri Cahyo Utomo , Kds Pataan ( 2019-2025 )

Lamongan,OposisiNews.co.id - Pilihan kepala desa telah usai dilaksanakan dan berbagai cara ( adat,tradisi ) telah dilakukan Kades terpilih dalam merayakan keberhasilannya di ajang pilkades sebagai wujud sujud syukur..

Seperti halnya yang dilakukan Subakri Cahyo Utomo yang telah mendapat mandat warga desa Pataan Kecamatan Sambeng Kabupaten Lamongan menjadi orang nomor satu di desanya untuk bisa memimpin Desa Pataan periode 2019-2025

Sebagai wujud sujud syukurnya Subakri C.U kades terpilih di kontestasi pilkades serentak Kabupaten Lamongan mengadakan pengajian umum dan gebyar sholawat  di kediamanya , senin 18/11/2019.

Acara bakal di gelar malam hari , dengan  mengundang mubaliq ustad dan ustadjah kondang di Kabupaten Lamongan yaitu Ustad Kyai Muslihan Ahmad dari Sidokumpul dan Ustadjah Hj.Tan Mei Hwa dari Surabaya.

Hadir dalam giat Pengajian Akbar , Majelis Majmal Khoir ( Gempol manis ) dan majelis sholawat Jombok ( wonorejo )

Pada awak media Oposisi , Subakri di sela-sela giat pengajian akbar mengatakan , “  Ini bentuk rasa syukur saya ke pencipta , Allah S W T  karena terpilih dan diberi amanah untuk memimpin desa saya berharap  kedepan kita bisa bersatu bergotong royong demi kemajuan desa"

Warga desa Pataan berharap dengan terpilih-nya pemimpin baru maka kondisi  kedepan semakin baik dalam pelayanan masyarakat , pembangunan semakin pesat , mengedepankan trasparasi dalam mengunakan dana desa untuk menuju desa yang guyup rukun dan makmur

Subakri cahyo utomo di depan jemah pengajian yang disaksikan ustad dan ustajah berjanji akan senantiasa amanah dan istiqomah menjalankan amanah / mandat warga desa Pataan ( Efn )

OPOSISI NEWS VERSI CETAK

Icon