Email : oposisi2015@gmail.com... Pusat : Jl. Hayam Wuruk, No 79, Kota Kediri...Sekretariat : Jl. Trunojoyo, Gg. Mayang, No 1/20, Ngawi, Jawa Timur
Home » » INISIATIF REKONSILIASI KONFLIK ANTAR DUA DESA ADAT ‘ HODIK PADAK ‘

INISIATIF REKONSILIASI KONFLIK ANTAR DUA DESA ADAT ‘ HODIK PADAK ‘

Written By BBG Publizer on Selasa, 19 November 2019 | 21.50


“Damainya lahir dari kesadaran bahwa berdamai dan bersatu akan berdampak pada hasil kerja dan kesuksesan hidup. Supaya usaha lancar, kerja tanpa hambatan, tanaman subur jauh dari hama dan penyakit maka relasi antar manusia juga harus baik. Sehingga alam, leluhur dan Rera Wulan Tana Ekan menurunkan hujan berkat dan hidup manusia berbuah dan bermakna, hingga syukur dan bakti bisa terjadi ” ( Di kutip dari kata mutiara Budayawan Lewotala , Flores Timur ,Silvester Petara Hurit )

Ritual Hodik Padak ( Ritual Damai )
Flores Timur, OposisiNews.co.id- Penyelesaian konflik tidak bisa terpisahkan dari rekonsiliasi karena hal tersebut merupakan salah satu proses pembentukan perdamaian yang tertuju pada implementasi praktis secara damai dengan dasar insiatif masyarakat serta kesamaan kearifan lokal,  sehingga mempunyai efek yang sangat penting dimana masyarakat setempat berniat dan turut serta menjaga hubungan kekerabatan.

Hal tersebut telah dilakukan oleh masyarakat Desa Lewotala (Bentala) dan Desa Wailolong dalam kurun waktu 38 tahun terlibat konflik yang bersifat sporadis. kini konflik tersebut telah menawarkan sebuah perdamaian yang langgeng. Perdamaian yang bersifat abadi itu menjadi sebuah kerinduan ke dua Desa tersebut  yang telah terpenuhi.

Secara tradisi budaya, masyarakat kedua desa tersebut menggelar ritual adat Hodik Padak sebagai lambang rekonsiliasi atas konflik belum lama ini pada Sabtu, 16/11/2019. Hodik Padak sendiri secara harafiah berarti menyambung atau mendekatkan dua hal/benda untuk kemudian dikuatkan dalam satu ikatan.

Konflik yang melibatkan kedua kampung adat terjadi sejak tahun 1981 dipicu  persoalan menyangkut penguasaan dan pemanfaatan sumber air di Wailuka di desa Lewotala. Konflik ini kemudian menyebabkan situasi yang tidak kondusif antara kedua desa meski tidak berujung pada bentrokan secara fisik.

Ketika kedua masyarakat adat ini hendak memanfaatkan lahan di daerah yang disebut dengan Ma Lema yang menjadi tempat persinggungan antara kedua desa ini, kedua masyarakat adat  kemudian bersepakat untuk menyelenggarakan sebuah ritual adat karena kedua masyarakat adat  yakin bahwa konflik yang telah berlangsung selama ini menghambat proses bertani berdampak menurunnya hasil pertanian ke dua desa .

Kesepakatan dan kondisi inilah yang kemudian menginsipari diadakanya ritual Hodik Padak. Proses ritual seperti Gili Wua dan penyembelihan hewan kurban sebagai bentuk rekonsiliasi dilaksanakan dihalaman rumah adat Lewotala yang melibatkan masyarakat dari kedua kampung adat.
Masyarakat dari desa Wailolong dijamu dan dilayani oleh masyarakat Lewotala sebagai bukti persaudaraan, persahabatan dan rasa kekeluargaan atas rekonsiliasi yang telah terjadi. Setelah diadakan di Lewotala, ritual yang sama akan kembali digelar di Desa Wailolong (18/11/2019).

Acara ini dihadiri oleh Wakil Bupati Flores Timur Agustinus Payong Boli, S.H, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Flores Timur Apolonia Corebima, SE,M.Si, Kepala Bidang Pengembangan Seni dan Budaya Cornelia S. Koten, S.Sos, Camat Lewolema Bernadus S. Tukan, Camat Ile Mandiri Ramon Piran, tokoh agama, tokoh masyarakat dan adat serta masyarakat umum .

Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli,S.H, yang turut hadir dalam ritual ini menyampaikan bahwa ritual semacam ini harusnya menjadi model penyelesaian konflik antara masyarakat sehingga konflik yang terjadi pada tingkat masyarakat dapat diselesaikan sendiri oleh masyarakat setempat.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Flores Timur, Apolonia Corebima, SE. M.Si, bahwa Hodik Padak merupakan wujud nilai-nilai ke-Lamaholot-an yang harus tetap dipertahankan dan diwariskan sebagai sebuah upaya penyelesaian konflik antara masyarakat. Generasi muda-pun seharusnya melihat ini sebagai sebuah warisan budaya Lamaholot yang harus dikedepankan ketika terjadi konflik antar masyarakat.

“Di sini, ada nilai saling memaafkan, saling terbuka dan semangat persaudaraan. Inilah yang menjadi kekuatan kita sebagai orang Lamaholot, sehingga inisiatif-inisiatif seperti ini harus terus dilakukan tanpa harus menunggu pemerintah dan aparat keamanan yang turun tangan,” lanjutnya.

Silvester Petara Hurit sebagai salah satu budayawan Flores Timur yang juga berasal dari Lewotala pun menegaskan hal yang sama. Menurutnya, cara menyelesaikan konflik secara adat adalah kearifan lokal yang unik dan sangat bernilai bahkan dalam konteks zaman sekarang. (AL- 01)
Share this article :

0 komentar:

OPOSISI NEWS VERSI CETAK

Icon