Email : oposisi2015@gmail.com... Pusat : Jl. Hayam Wuruk, No 79, Kota Kediri...Sekretariat : Jl. Trunojoyo, Gg. Mayang, No 1/20, Ngawi, Jawa Timur
Home » » Anggatra Bhumi Luhur Manembah

Anggatra Bhumi Luhur Manembah

Written By BBG Publizer on Jumat, 29 November 2019 | 19.45

Sebuah Sengkalan
Patung petani membajak sawah di taman wisata Dungus . kabupaten Ngawi - Jawa Timur

Ngawi,OposisiNews.co.id - Menomenal ketika Pemkab Ngawi memberi sentuhan seni berupa patung ' Petani membajak sawah dengan dua Kerbau besarnya ' dipintu masuk kota Ngawi tepatnya di Taman wisata Dungus , wana wisata santai diakir pekan bersama keluarga.
Direktur PT DLIK & Oposisi

Tidak ingin ditafsirkan negatif keberadaan patung petani dengan kerbaunya , Dinas LH yang membidangi pekerjaan itu melalui rekanan PT Dwi Laksana Indah Karya yang mengerjakan terpasang lah prasasti ANGGATRA BHUMI LUHUR MANEMBAH yang menceritakan makna yang tersirat dari patung itu.

Prasasti 
Anggatra Bhumi Luhur Manembah merupakan Bahasa Kawi atau Jawa Kuna, sedangkan dalam Bahasa Indonesia berarti “Berbakti Luhur dengan Mengolah Tanah”.

Mengapa sengkalan tersebut dipilih untuk menandai Taman Dungus di Negeri Ngawi Ramah.

Diketahui bahwa 72% tanah di kabupaten Ngawi berupa sawah, hutan dan perkebunan yang menyerap 76% tenaga kerja.

 Dan sudah jamak dikenal kebanyakan penduduk Negeri Ngawi Ramah bekerja sebagai among tani dengan mengolah sawah mereka, bercocok tanam padi.

Dengan sekilas pandang tersebut dipilih suatu ikon, penanda Taman Dungus Negeri Ngawi Ramah dengan patung Tani yang sedang membajak, tentunya dengan alat utama bajak, dalam Bahasa Jawa Luku, yang dihela 2 ekor kerbau.

Luku dalam bahasa Jawa biasa disebut bajak. Berawal dari kata laku atau mlaku yang artinya orang membajak sawah

ibaratnya adalah orang yang sedang memulai sebuah kehidupan, yang memiliki falsafah penting bagi para among tani yang hidup di Negeri Ngawi Ramah, yang termasyur dengan negeri agraris, negeri tetanen.

Ada 7 bagian dari sebuah luku, yaitu: gagang, pancadan, tanding, singkal, kejen, olan-aling dan rancuk.

Gagang (Pegangan), bahwa manusia hidup mesti memiliki pegangan ilmu;

Pancadan (Jejakan) berarti ilmu yang dimiliki tadi tentu harus diamalkan; tanding (membandingkan), dalam bertindak selalu bisa membandingkan mana yang benar mana yang salah, mana yang utama mana yang nista; singkal (sing nganggo akal/gunakan akal budi), akal budi digunakan untuk selalu bisa mawas diri atau instropeksi: kejen (kasawijen/pemusatan/fokus), dalam melakukan suatu hal harus dengan tekat yang kuat dan sunggung –sungguh, olang-aling (terbuka tabirnya), bila dalam bertindak bersungguh-sungguh dan ajeg mengamalkan lima hal tersebut di atas maka tersibaklah tabir kehidupan yang sejati atau sejatinya kehidupan, racuk (ngarah sing pucuk/mencapai yang ujung luhur).

Akhirnya dalam perjalanan hidupnya manusia sempurna akan selalu melakukan yang terbaik bagi dirinya, bagi sesama dan bagi Tuhannya. ( Red** )
Share this article :

0 komentar:

OPOSISI NEWS VERSI CETAK

Icon